“MENGENANG “olivetti
linea 98” MESIN KETIK KESAYANGANKU”
Pagi
ini pandangan saya tertuju pada sebuah benda yang nampak sedikit lusuh berdebu,
dekil, dengan cat-cat yang sudah mulai mengelupas di sana sini. Benda tersebut
kelihatan telah berumur dan kurang kekinian namun demikian benda tersebut masih
menunjukkan kegagahan dan keperkasaannya. Terdapat tombol-tombol dengan huruf
dan angka dengan susunan QWERTY yang bisa diketuk-ketuk sehingga menghasilkan
cetakan huruf atau angka. Benda tersebut masih tersimpan rapi di atas meja
seolah ingin menunjukkan eksistensinya dengan segala peran yang telah
dimainkannya selama ini. Sesaat saya bertanya-tanya dalam hati,”mengapa benda
ini masih saja disimpan”? toh sudah teramat jarang dipergunakan. Yah...benda
itu Yah adalah sebuah mesin ketik. Sayapun mencoba mengingat-ingat kembali
bagaimana jasa-jasanya terhadap pekerjaan kami sebagai seorang pustakawan.
Bagi
generasi angkatan delapan puluhan sampai awal duapuluhan, mesin ketik manual
ini sangat akrab dengan kita. Baik di perkantoran maupun di rumah pekerjaan
ketik mengetik bisa dipastikan menggunakan alat ini, sampai kemudian Personal
Computer menggantikan peran mesin ketik ini dalam melakukan pengolahan kata dan
huruf. Terbayang bagaimana susahnya mengetik (tidak Cuma menyentuh layaknya
papan touch screen) huruf demi huruf,
belum lagi jika salah ketik maka huruf yang dihasilkanpun akan salah dan harus
dihapus dengan cara di tip-ex (sebut
merk, yang artinya mengoleskan cairan sewarna dengan kertas pada huruf atau
kata yang salah, meniupnya sampai kering dan kemudian menimpanya dengan ketikan
huruf baru yang benar). Repot sekali, bukan? Melalui Personal Computer kesalahan ketik bisa dikoreksi dengan sekali
pencet tombol delete dan semua
terhapus tanpa meninggalkan jejak pada kertas.
Dalam
dunia perpustakaan, tentu saja kita masih bisa mengingat bagaimana mesin ketik
ini mampu menghasilkan kartu-kartu katalog. Saat ini mungkin katalog dalam
bentuk kartu ini sudah jarang kita temui, karena hampir semua perpustakaan telah menggunakan aplikasi komputer sebagai
bentuk atau perwujudan dari sebuah katalog. Kartu yang berukuran 7,5 x 12,5 cm
ini difilling dalam suatu rak khusus secara
alfabetis menurut pengarang, judul dan subjeknya, dan dilengkapi dengan
keterangan-keterangan bibliografis termasuk pula nomor panggil dan lokasi yang
memungkinkan pengguna untuk menemukan buku yang dicari.
Sebagaimana
penjelasan di atas bahwa dalam satu buku saja bisa terdapat lebih dari satu
kartu katalog, hal tersebut berarti bahwa seorang pustakawan akan mengetikan
lebih dari satu kali untuk satu data bibliografi sebuah buku. Berapa banyak
kartu katalog yang dihasilkan oleh seorang pustakawan dalam satu hari? wow tentu saja sangat banyak dan cukup
melelahkan.
Peran
mesin ketik saat itu sangat berarti dalam menghasilkan kartu-kartu katalog yang
merupakan “jembatan” antara pengguna dan buku. Meskipun saat ini peran mesin
ketik sudah tergantikan oleh teknologi yang lebih canggih, namun demikian kita
tidak lantas begitu saja mengabaikan dan menghilangkannya. Mesin ketik menjadi
salah satu bagian dari sejarah dinamika proses temu kembali informasi yang
patut dikenang jasa-jasanya dalam dunia perpustakaan. Maka menjadi tak
berlebihan apabila sampai saat ini pun mesin ketik “olivetti LINEA 98” tersebut
masih berada pada tempat yang layak di sebuah meja pada salah satu sudut
ruangan perpustakaan dan sesekali masih dipergunakan untuk mengetik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar