Minggu, 08 Mei 2016

Napak Tilas



“MENGENANG “olivetti linea 98” MESIN KETIK KESAYANGANKU”


Pagi ini pandangan saya tertuju pada sebuah benda yang nampak sedikit lusuh berdebu, dekil, dengan cat-cat yang sudah mulai mengelupas di sana sini. Benda tersebut kelihatan telah berumur dan kurang kekinian namun demikian benda tersebut masih menunjukkan kegagahan dan keperkasaannya. Terdapat tombol-tombol dengan huruf dan angka dengan susunan QWERTY yang bisa diketuk-ketuk sehingga menghasilkan cetakan huruf atau angka. Benda tersebut masih tersimpan rapi di atas meja seolah ingin menunjukkan eksistensinya dengan segala peran yang telah dimainkannya selama ini. Sesaat saya bertanya-tanya dalam hati,”mengapa benda ini masih saja disimpan”? toh sudah teramat jarang dipergunakan. Yah...benda itu Yah adalah sebuah mesin ketik. Sayapun mencoba mengingat-ingat kembali bagaimana jasa-jasanya terhadap pekerjaan kami sebagai seorang pustakawan.

Bagi generasi angkatan delapan puluhan sampai awal duapuluhan, mesin ketik manual ini sangat akrab dengan kita. Baik di perkantoran maupun di rumah pekerjaan ketik mengetik bisa dipastikan menggunakan alat ini, sampai kemudian Personal Computer menggantikan peran mesin ketik ini dalam melakukan pengolahan kata dan huruf. Terbayang bagaimana susahnya mengetik (tidak Cuma menyentuh layaknya papan touch screen) huruf demi huruf, belum lagi jika salah ketik maka huruf yang dihasilkanpun akan salah dan harus dihapus dengan cara di tip-ex (sebut merk, yang artinya mengoleskan cairan sewarna dengan kertas pada huruf atau kata yang salah, meniupnya sampai kering dan kemudian menimpanya dengan ketikan huruf baru yang benar). Repot sekali, bukan? Melalui Personal Computer kesalahan ketik bisa dikoreksi dengan sekali pencet tombol delete dan semua terhapus tanpa meninggalkan jejak pada kertas.

Dalam dunia perpustakaan, tentu saja kita masih bisa mengingat bagaimana mesin ketik ini mampu menghasilkan kartu-kartu katalog. Saat ini mungkin katalog dalam bentuk kartu ini sudah jarang kita temui, karena hampir semua perpustakaan  telah menggunakan aplikasi komputer sebagai bentuk atau perwujudan dari sebuah katalog. Kartu yang berukuran 7,5 x 12,5 cm ini difilling dalam suatu rak khusus secara alfabetis menurut pengarang, judul dan subjeknya, dan dilengkapi dengan keterangan-keterangan bibliografis termasuk pula nomor panggil dan lokasi yang memungkinkan pengguna untuk menemukan buku yang dicari.

Sebagaimana penjelasan di atas bahwa dalam satu buku saja bisa terdapat lebih dari satu kartu katalog, hal tersebut berarti bahwa seorang pustakawan akan mengetikan lebih dari satu kali untuk satu data bibliografi sebuah buku. Berapa banyak kartu katalog yang dihasilkan oleh seorang pustakawan dalam satu hari? wow tentu saja sangat banyak dan cukup melelahkan.

Peran mesin ketik saat itu sangat berarti dalam menghasilkan kartu-kartu katalog yang merupakan “jembatan” antara pengguna dan buku. Meskipun saat ini peran mesin ketik sudah tergantikan oleh teknologi yang lebih canggih, namun demikian kita tidak lantas begitu saja mengabaikan dan menghilangkannya. Mesin ketik menjadi salah satu bagian dari sejarah dinamika proses temu kembali informasi yang patut dikenang jasa-jasanya dalam dunia perpustakaan. Maka menjadi tak berlebihan apabila sampai saat ini pun mesin ketik “olivetti LINEA 98” tersebut masih berada pada tempat yang layak di sebuah meja pada salah satu sudut ruangan perpustakaan dan sesekali masih dipergunakan untuk mengetik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar