Minggu, 15 Mei 2016

Jalan-Jalan ala Pustakawan



SAYANG DIBUANG:
SESUATU YANG BERKESAN DARI SEBUAH PERJALANAN YANG DINAMAKAN “LIBRARY TOUR”


Berbagai cara dapat dilakuakan dalam rangka belajar, salah satu konsep belajar yang dapat diterapkan adalah melalui kegiatan studi banding. Pengertian studi banding sendiri  merujuk pada suatu kegiatan dimana kegiatan tersebut  dilakukan pada lokasi atau lingkungan yang berbeda. Studi banding tersebut dilakukan oleh kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan guna mengunjungi atau menemui suatu obyek tertentu yang tentu saja sudah dipersiapkan dan berlangsung dalam waktu yang relatif tidak lama. Atau dengan kata lain studi bading merupakan upaya memperbandingkan antara kondisi suatu obyek yang ada di tempat sendiri dengan kondisi obyek studi di tempat lain atau lokasi yang dituju. Hasil yang diharapkan dari kegiatan studi banding yang dilakukan adalah berupa data dan informasi yang dapat dipergunakan sebagai dasar acuan di dalam melakukan perumusan konsep yang diinginka. Secara umum kegiatan ini bermanfaat bagi peningkatkan mutu atau kualitas, perluasan usaha, perbaikan suatu sistem, penentuan sebuah kebijakan baru, perbaikan peraturan perundangan dan tujuan laninya. Sementara itu tujuan yang dapat dicapai adalah: menggali informasi sebanyak mungkin yang dapat dipergunakan sebagai tolok ukur dan sebuah pembanding yang dapat dipergunakan untuik menemukan sebuah pembaharuan yang aplikatif baik untuk perencanaan jangka pendek maupun jangka panjang. Singkat kata tujuan studi banding adalah: menambah wawasan dan pengalaman, melakukan perbandingan di tempat kita dengan tempat lain, serta menambah cakrawala fikir.
Pustakawan terkadang dalam pekerjaannya terjebak dalam berbagai aktifitas rutin dan bersifat teknis. Dia sering diidentikan dengan pekerjaan membuat nomor kelas, membuat katalog, menyusun buku pada jajaran rak, pembuatan indeks dan abstrak serta berbagai macam rutinitas lainnya. Kegitan-kegian rutin tersebut terkadang menumpulkan kemampuan seorang pustakawan untuk berfikir dan bertindak lebih kreatif, inovatif, user oriented, dan berbagai pemikiran diluar biasanya. Salah satu cara agar pustakawan dapat lepas dari kondisi tersebut adalah melalui kegiatan studi banding. Tentu saja lokasi studi banding yang dituju haruslah memiliki standar yang lebih tinggi dibandingkan dengan lokasi kita. Diharapkan melalui kegiatan studi banding tersebut seorang pustakawan dapat memiliki pencerahan dalam melanjutkan profesi sebagai seorang manajer informasi.
Pada pertengahan Bulan Maret 2016 bersama dengan rombongan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia Provinsi DIY, berkesempatan mengikuti serangkaian program Library Tour ke dua negara tetangga yaitu Malaysia dan Singapura. Kesempatan yang tentu saja tidak pernah disia-siakan (kapan lagi kalau bukan sekarang..?) untuk melihat secara lebih dekat dan mendalam bagaimana dunia perpustakaan di negara lain. Kegiatan tersebut diberi tema “Embedded Librarianship Tour 2016” dengan mata acara adalah: Library tour, seminar, ceramah dan diskusi. Istilah Embedded sendiri berarti sebuah upaya perpustakaan untuk mempertegas perannya dalam aktivitas yang dilakukan lembaga induknya atau dengan kata lain suatu usaha yang dilakukan oleh perpustakaan untuk meningkatkan nilai guna dari layanan yang diselenggarakan. Perpustakaan yang dipilih menjadi tujuan dari Library Tour adalah jenis perpustakaan Umum dan Perpustakaan Perguruan Tinggi di kedua negara tersebut. Di Malaysia perpustakaan yang dituju yaitu Universiti Teknologi MARA (UiTM), Perbadanan Perpustakaan Awam Selangor (PPAS), sedangkan di Singapura adalah mengunjungi Perpustakaan National University of Singapore (NUS), National Library Board (NLB), dan Esplanade Library. Berkeliling di perpustakaan-perpustakaan tersebut terasa sentuhan kekinian dalam pengelolaan perpustakaan. Secara sekilas disain interior serta sarana prasarana yang dipergunakan terkesan dinamis dan modern, misalnya bangku atau kursi yang menggunakan warna-warna cerah dan mencolok atau berbentuk bulat, lingkaran, lesehan dengan ceruk-ceruk dilantai, bangku yang berada di dalam rak display buku ((nylempit: Jawa) dan sebagainya. Fasilitas ruangan yang nyaman mengakomodasai kebutuhan pemustaka yang beragam misalnya ada zona senyap dan ruang khusus bertelepon, ruang diskusi, ruang santai, galeri, dan sebagainya. Menarik pula apabila melirik pengunjung perpustakaan umum dimana dari segala usia mulai dari anak-anak, dewasa, hingga para “sepuh” alias eyang-eyang menggunakan fasilitas layanan perpustakaan tersebut serta adanya kegiatan-kegiatan menarik yang disuguhkan perpustakaan bagi pemustaka.
Meminjam istilah yang disampaikan oleh Wayne Wiegand yang dikutip oleh Gary P. Radford dalam artikel “Trapped In Our Own Discursive Formations: Toward An Archaelogy of Library And Information Science” bahwa Ilmu Perpustakaan dan Informasi seperti “Tunnel Vision and Blind Spot” atau secara sederhana menggunakan kacamata kuda. Oleh karena itu  melalui kegiatan library tour tersebut benar-benar mampu menggelitik sanubari untuk dapat keluar dari “zona biasa saja” atau menggunakan kacamata kuda dalam  pengelolaan perpustakaan untuk memperoleh cakrawala pandang yang lebih luas sehingga mampu mengambil sisi positif dari luar sana yang dapat diimplementasikan dalam lingkungan kita.
Singkat cerita bahwa terkadang kita perlu melihat keluar untuk melihat apa yang terjadi di luar sana, sebagai sebuah refleksi diri terhadap apa yang sudah kita lakukan di tempat kita sendiri. Oleh karena itu mari kita berupaya keluar dari kebiasaan dan pandangan sempit, berfikir kreatif dan inovatif, mengubah image masyarakat terhadap perpustakaan yang hanya sebagai gudang buku, ruang display, petugas yang kaku dan kurang ramah dan citra negatif lainnya menuju kepada perpustakaan baru yang lebih dinamis dan mampu berperan dalam mendukung pembangunan kecerdasan masyarakat, perpustakaan yang mampu mengenali kebutuhan masyarakat.


*beberapa bagian  dikutip dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar