SAYANG DIBUANG:
SESUATU YANG
BERKESAN DARI SEBUAH PERJALANAN YANG DINAMAKAN “LIBRARY TOUR”
Berbagai cara dapat dilakuakan dalam
rangka belajar, salah satu konsep belajar yang dapat diterapkan adalah melalui
kegiatan studi banding. Pengertian studi banding sendiri merujuk pada suatu kegiatan dimana kegiatan
tersebut dilakukan pada lokasi atau
lingkungan yang berbeda. Studi banding tersebut dilakukan oleh
kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan guna mengunjungi atau menemui suatu
obyek tertentu yang tentu saja sudah dipersiapkan dan berlangsung dalam waktu
yang relatif tidak lama. Atau dengan kata lain studi bading merupakan upaya
memperbandingkan antara kondisi suatu obyek yang ada di tempat sendiri dengan
kondisi obyek studi di tempat lain atau lokasi yang dituju. Hasil yang
diharapkan dari kegiatan studi banding yang dilakukan adalah berupa data dan
informasi yang dapat dipergunakan sebagai dasar acuan di dalam melakukan
perumusan konsep yang diinginka. Secara umum kegiatan ini bermanfaat bagi peningkatkan
mutu atau kualitas, perluasan usaha, perbaikan suatu sistem, penentuan sebuah
kebijakan baru, perbaikan peraturan perundangan dan tujuan laninya. Sementara
itu tujuan yang dapat dicapai adalah: menggali informasi sebanyak mungkin yang
dapat dipergunakan sebagai tolok ukur dan sebuah pembanding yang dapat dipergunakan
untuik menemukan sebuah pembaharuan yang aplikatif baik untuk perencanaan
jangka pendek maupun jangka panjang. Singkat kata tujuan studi banding adalah:
menambah wawasan dan pengalaman, melakukan perbandingan di tempat kita dengan
tempat lain, serta menambah cakrawala fikir.
Pustakawan terkadang dalam pekerjaannya
terjebak dalam berbagai aktifitas rutin dan bersifat teknis. Dia sering
diidentikan dengan pekerjaan membuat nomor kelas, membuat katalog, menyusun
buku pada jajaran rak, pembuatan indeks dan abstrak serta berbagai macam
rutinitas lainnya. Kegitan-kegian rutin tersebut terkadang menumpulkan
kemampuan seorang pustakawan untuk berfikir dan bertindak lebih kreatif,
inovatif, user oriented, dan berbagai
pemikiran diluar biasanya. Salah satu cara agar pustakawan dapat lepas dari
kondisi tersebut adalah melalui kegiatan studi banding. Tentu saja lokasi studi
banding yang dituju haruslah memiliki standar yang lebih tinggi dibandingkan
dengan lokasi kita. Diharapkan melalui kegiatan studi banding tersebut seorang
pustakawan dapat memiliki pencerahan dalam melanjutkan profesi sebagai seorang
manajer informasi.
Pada pertengahan Bulan Maret 2016
bersama dengan rombongan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia Provinsi
DIY, berkesempatan mengikuti serangkaian program Library Tour ke dua negara
tetangga yaitu Malaysia dan Singapura. Kesempatan yang tentu saja tidak pernah
disia-siakan (kapan lagi kalau bukan
sekarang..?) untuk melihat secara lebih dekat dan mendalam bagaimana dunia
perpustakaan di negara lain. Kegiatan tersebut diberi tema “Embedded Librarianship Tour 2016” dengan mata acara adalah: Library tour, seminar, ceramah dan
diskusi. Istilah Embedded sendiri
berarti sebuah upaya perpustakaan untuk mempertegas perannya dalam aktivitas
yang dilakukan lembaga induknya atau dengan kata lain suatu usaha yang
dilakukan oleh perpustakaan untuk meningkatkan nilai guna dari layanan yang
diselenggarakan. Perpustakaan yang dipilih menjadi tujuan dari Library Tour adalah jenis perpustakaan
Umum dan Perpustakaan Perguruan Tinggi di kedua negara tersebut. Di Malaysia perpustakaan
yang dituju yaitu Universiti Teknologi MARA (UiTM), Perbadanan Perpustakaan
Awam Selangor (PPAS), sedangkan di Singapura adalah mengunjungi Perpustakaan
National University of Singapore (NUS), National Library Board (NLB), dan
Esplanade Library. Berkeliling di perpustakaan-perpustakaan tersebut terasa
sentuhan kekinian dalam pengelolaan
perpustakaan. Secara sekilas disain interior serta sarana prasarana yang
dipergunakan terkesan dinamis dan modern, misalnya bangku atau kursi yang
menggunakan warna-warna cerah dan mencolok atau berbentuk bulat, lingkaran, lesehan
dengan ceruk-ceruk dilantai, bangku yang berada di dalam rak display buku ((nylempit: Jawa) dan sebagainya.
Fasilitas ruangan yang nyaman mengakomodasai kebutuhan pemustaka yang beragam
misalnya ada zona senyap dan ruang khusus bertelepon, ruang diskusi, ruang
santai, galeri, dan sebagainya. Menarik pula apabila melirik pengunjung
perpustakaan umum dimana dari segala usia mulai dari anak-anak, dewasa, hingga
para “sepuh” alias eyang-eyang menggunakan fasilitas layanan perpustakaan
tersebut serta adanya kegiatan-kegiatan menarik yang disuguhkan perpustakaan bagi
pemustaka.
Meminjam istilah yang disampaikan oleh
Wayne Wiegand yang dikutip oleh Gary P. Radford dalam artikel “Trapped In Our Own Discursive Formations:
Toward An Archaelogy of Library And Information Science” bahwa Ilmu
Perpustakaan dan Informasi seperti “Tunnel
Vision and Blind Spot” atau secara sederhana menggunakan kacamata kuda. Oleh
karena itu melalui kegiatan library tour tersebut benar-benar mampu
menggelitik sanubari untuk dapat keluar dari “zona biasa saja” atau menggunakan
kacamata kuda dalam pengelolaan
perpustakaan untuk memperoleh cakrawala pandang yang lebih luas sehingga mampu
mengambil sisi positif dari luar sana yang dapat diimplementasikan dalam
lingkungan kita.
Singkat cerita bahwa terkadang kita
perlu melihat keluar untuk melihat apa yang terjadi di luar sana, sebagai
sebuah refleksi diri terhadap apa yang sudah kita lakukan di tempat kita
sendiri. Oleh karena itu mari kita berupaya keluar dari kebiasaan dan pandangan
sempit, berfikir kreatif dan inovatif, mengubah image masyarakat terhadap perpustakaan yang hanya sebagai gudang
buku, ruang display, petugas yang kaku dan kurang ramah dan citra negatif
lainnya menuju kepada perpustakaan baru yang lebih dinamis dan mampu berperan
dalam mendukung pembangunan kecerdasan masyarakat, perpustakaan yang mampu
mengenali kebutuhan masyarakat.
*beberapa bagian dikutip dari berbagai sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar