Kamis, 21 April 2016

Coretan Pertama



AKU DAN MENULIS

Mendengar kata menulis, yang terlintas dalam benak saya adalah masa-masa sekolah dulu, dimana selalu saja ada (dipaksa) untuk mengarang atau menuliskan sesuatu sebagai sebuah karangan pada salah satu tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Merangkai kata dan kalimat dari satu paragraf ke paragraf berikutnya yang terkadang nampak tidak nyambung satu sama lain sehingga mengaburkan makna. Kembali ke masa itu, rasanya puas sekali apabila mampu memenuhi lembar demi lembar kertas lembar jawab ujian (kalau tidak salah waktu itu namanya THB atau dari Tes Hasil Belajar) dengan hasil karangan.
Selepas masa-masa sekolah dasar sampai menengah kegiatan tulis menulis sebagai ungkapan ide atau gagasan nyaris tidak pernah dilakukan, kecuali memang dipaksa untuk menulis sebagai bagian dari (lagi lagi) sebagai tugas kuliah. Saat ini kalaupun harus menulis paling dalam bentuk update status di facebook atau media sosial lainnya, bagi saya itupun terbilang sangat sangat jarang. (pokoknya ga ekspresif banget deh).
Benar sekali kata orang kalau berkomunikasi secara lisan lebih mudah dilakukan dibanding dengan komunikasi melalui sebuah tulisan. Kalau ngobrol tinggal cuap cuap aja tapi kalau melalui tulisan, duh mesti mikir bagaimana membuat kalimat yang bisa dimengerti oleh orang, sesuai tidak dengan kaidah tata bahasa, nyambung tidak antara satu kalimat dengan kalimat lainnya, dan sebagainya.  Parahnya lagi terkadang tiada ide yang hendak dituliskan (termasuk ketika menulis ini).
Apa sih sebenarnya menulis itu, Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, menulis dapat berarti, (1) membuat huruf Angka dsb), (2) melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan, (3) menggambar; melukis, (4) membatik (kain). Berdasarkan beberapa arti menulis tersebut maka yang dirasa paling sesuai dengan konteks tulisan ini adalah definisi yang pertama dan kedua yaitu, bagaimana membuat huruf atau angka serta melahirkan pikiran atau perasaan dengan tulisan.
Menurut Djago Tarigan dalam sebuah tulisannya mengatakan bahwa mengarang merupakan suatu keterampilan yang bersifat mekanistik, dimana keterampilan tersebut tidak mungkin dapat dikuasai oleh seseorang hanya dengan berbekal teori saja. Akan tetapi melalui latihan-latihan terus menerus.
Sementara itu menurut Arswendo Atmowiloto mengatakan bahwa mengarang itu gampang, karena bisa dipelajari dengan syarat tertentu. Apa syaratnya? Syaratnya adalah: mempunyai kemampuan membaca dan menulis serta mempunyai minat terus-menerus yang tidak mudah patah. Lebih lanjut Arswendo dalam bukunya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan minat dan ambisi tersebut diibaratkan sebagai rasa cinta yang terus mengalir, yang didasarkan pada kepercayaan diri. Melalui kegiatan tulis menulis atau mengarang seseorang melakukan sesuatu yang dicintai dan percaya bahwa ada sesuatu yang baik yang dapat dilakukan melalui hal tersebut.
Pustakawan menulis? Kenapa tidak? mari saling dukung untuk tumbuhnya rasa cinta menulis sebagai bentuk ekspresi diri pustakawan yang harapannya semakin banyak orang yang mengenal dunia kepustakawanan, kalau bukan kita siapa lagi? So...lebih baik memulai “menulis” daripada tidak sama sekali, mencoba meski jauh dari sempurna. Yang penting berusaha dan terus berlatih..
Semangat menumbuhkan cinta membaca dan menulis.

DAFTAR PUSTAKA
Atmowiloto, Arswendo, Mengarang Itu Gampang, Jakarta: Gramedia, 1987.
Indonesia, Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar bahasa Indonesia Pusat Bahasa, ed.4., Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008.
Tarigan, Djago, Membina Keterampilan Menulis Paragraf dan Pengembangannya, Bandung: Angkasa, 2008.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar