Selasa, 31 Mei 2016

Akreditasi perpustakaan



SEKILAS PANDANG
“AKREDITASI PERPUSTAKAN PERGURUAN TINGGI”


Perpustakaan dalam pandangan UU.RI No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka. Dimana tujuan dari diselenggarakannya perpustakaan tersebut adalah: memberikan layanan kepada pemustaka, menigkatkan kegemaran membaca serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdasakan kehidupan bangsa. Didalam UU tentang perpustakaan tersebut juga dinyatakan bahwa setiap perpustakaan dikelola dengan standar nasional perpustakaan. Artinya bahwa dalam mengelola sebuah perpustakaan harus sesuai dengan ketentuan minimal, pedoman, dan/atau karakteristik tertentu yang harus dipenuhi untuk memperoleh suatu tingkat keteraturan yang optimal. Sedangkan untuk mengukur apakah suatu perpustakaan sudah dikelola sesuai standar ataukah belum adalah dengan menggunakan akreditasi perpustakaan. Kita mengenal bahwa terdapat beberapa jenis perpustakaan, salah satunya adalah perpustakaan perguruan tinggi. Sebagai salah satu dampak dari ketentuan bahwa setiap perpustakaan harus dikelola sesuai dengan standar nasional perpustakaan maka perpustakaan perguruan tinggi sudah selayaknya melaksanakan mekanisme akreditasi perpustakaannya sehingga dapat mengetahui apakah perpustakaannya sudah terstandar ataukah belum.
Sebagai gambaran dibawah ini akan dikenalkan secara sepintas kompenen-komponen yang dipergunakan sebagai bahan penilaian dalam akreditasi perpustakaan perguruan tinggi.
1.   Komponen Layanan, aspek-aspek yang dinilai antara lain meliputi: jam buka perpustakaan, sistem peminjaman prosentase jumlah mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan  yang menjadi anggota perpustakaan, rata-rata buku dipinjam, promosi yang dilakukan, pelayanan berbasis TIK, literasi informasi, otomasi perpustakaan, dan jenis layanan.
2.      Komponen Kerja sama, aspek yang dinilai antara lain adalah: kerjasama dengan intern perguruan tinggi yang bersangkutan maupun kerjasama dengan pihak ekstern.
3.   Komponen Koleksi, aspek-aspek yang dinilai antara lain meliputi: jumlah koleksi, koleksi inti, buku referensi, surat kabar, majalah jurnal dan e-journal, koleksi khusus, stock opname, penambahan koleksi, weeding, survei kebutuhan, dan sebagainya.
4.    Komponen Pengorganisasian Bahan Pustaka, yang termasuk aspek penilaian diantaranya adalah: alat seleksi, pengolahan buku, dan kelengkapan buku.
5.      Komponen Sumber Daya Manusia, dengan aspek penilaian anatara lain: status kepala perpustakaan, jenjang pendidikan, continuing profesional development, jumlah SDM,keanggotaan dalam organisasi profesi, dan sebagainya.
6.     Komponen Gedung/ruang, sarana dan prasarana, yang termasuk dalam komponen ini diantaranya adalah: luas gedung, pencahayaan, sirkulasi udara, keamanan, rak, meja, kursi, komputer, dan sebagainya.
7.  Komponen Anggaran, aspek dalam komponen ini anatara lain jumlah anggaran per tahun, dan sebagainya.
8.   Komponen Manajemen Perpustakaan, aspek yang menjadi penilaian diantaranya adalah struktuir organisasi, program kerja dan laporan, serta beberapa aspek lainnya.
9. Komponen Perawatan Koleksi Perpustakaan, misalnya pengendalian kondisi ruangan, dan sebagaianya
Komponen dan aspek penilaian diatas hanyalah sebuah gambaran awal yang dapat menjadi semacam self assessment untuk mengukur bagaimana kita mengelola perpustakaan kita sebelum bersiap maju (bagi yang belum terakreditasi) dalam untuk memperoleh sertifikat akreditasi.

Minggu, 29 Mei 2016

Generasi Perpustakaan



DINAMIKA “LIBRARY AS SPACE”


Setiap orang mempunyai kesan dan penilaian sendiri-sendiri tentang suatu objek tertentu. Begitu pula kesan atau penilaian seseorang terhadap perpustakaan tentu sangat beragam, tergantung dari pengalaman, pengetahuan, dan latar belakang orang tersebut tentang perpustakaan. Beberapa orang mencitrakan perpustakaan secara positif dan sesuatu yang mengesankan. Namun tidak dipungkiri bahwa banyak anggota masyarakat yang masih berpandangan “kuno” terhadap perpustakaan. Perpustakaan masih dianggap “kekunoan”, dengan segala identitas yang menempel, misalnya: gudang buku, ruangan yang harus senyap tidak boleh diskusi atau mengobrol, kaku, petugas yang galak, banyak aturan-aturan dan larangan-larangan, dan lain sebagainya.
Sementara diluar sana semangat perkembangan teknologi informasi semakin menggempur kita seakan pula mampu mengubah sikap dan perilaku masyarakat. Melihat fenomena tersebut sudah semestinya perpustakaan berbenah diri untuk bertransformasi menjadi perpustakaan yang mengikuti perkembangan zaman dan trend perubahan sikap dan perilaku pemustakanya. Harapannya perpustakaan bisa bermain atau berperan pada segala masa, dinamis terhadap perubahan yang terjadi sehingga tidak ditinggalkan oleh para pemustaka atau masyarakat anggotanya. Jangan sampai perkembangan yang terjadi diluar perpustakaan menjadi tidak sejalan dengan perkembangan di dalam perpustakaan sendiri.
Apabila melihat perkembangan perpustakaan yang ada maka terdapat lima generasi perpustakaan “library as space”, dimana generasai disini tidak dimaksudkan merujuk pada kronologi waktu. Adapun secara singkat kelima generasi tersebut adalah:
1.      Generasi pertama adalah perpustakaan masih sebagai “Collection Centris”, atau dapat dikatakan bahwa fokus perhatian perpustakaan adalah pada koleksi. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui space ruang koleksi atau rak penyimpanan buku mendominasi ruang perpustakaan. Space untuk user lebih kecil dibanding space koleksi.
2.      Generasi kedua adalah “Client Focused”, perpustakaan generasi kedua tidak lagi berfokus pada koleksi tetapi pada layanan atau fokusnya pada pengguna atau user, misalnya ditandai dengan penggunaan teknologi dalam layanan perpustakaan, space untuk user lebih mendominasi daripada space koleksi.
3.      Generasi ketiga adalah perpustakaan sebagai “Experience Center”, merupakan pengembangan dari generasai kedua, dimana seorang user ketika masuk ke perpustakaan akan menemukan suatu pengalaman baru yang tidak ditemukan pada perpustakaan umumnya, ada rasa yang berbeda. Misalnya: tersedia cafe perpustakaan, tidak terlalu banyak larangan-larangan di perpustakaan, tersedia aneka fasilitas dan layanan dalam perpustakaan (movie, gym, arena bermain, dsb), display buku yang tidak monoton, dan sebagainya.
4.      Generasi keempat adalah perpustakaan sebagai “Connected Learning Experience”, perpustakaan menyediakan fasilitas yang memungkinkan user untuk belajar secara bersama baik dalam lingkungan perpustakaan maupun diluar lingkungan perpustakaan, misalnya menyediakan layar lebar untuk fasilitas belajar bersama atau menyediakan fasilitas skype agar seorang user dapat brlajar dengan seseorang diluar perpustakaan.
5.      Generasi kelima atau generasi terakhir adalah “Library as Makerspace”, artinya bahwa perpustakaan selain menyediakan buku sebagai bahan bacaan juga menyediakan sarana praktik dari pembahasan dari suatu bacaan tersebut. Misalnya ada buku tentang merajut, maka perpustakaan menyediakan fasilitas praktik atau latihan merajut.
 Sudah bukan masanya lagi perpustakaan dianggap sebagai tempat yang ga asiik dan kekunoon karena ternyata di beberapa tempat, perkembangan perpustakaan “library as place” sudah memasuki generasi kelima. Perubahan perpustakaan kearah yang lebih baik pasti akan bisa terwujud, salah satunya tergantung pada komitmen dan kesungguhan kita untuk berubah. Terletak di generasi berapa perpustakaan kita saat ini, menjadi refleksi kita untuk dapat merenda perpustakaan menjadi lebih baik.

Senin, 16 Mei 2016

Library as clinic



ANALOGI KLINIK DALAM PERPUSTAKAAN UMUM :
HASIL DISKUSI ARTIKEL “THE LIBRARY AS CLINIC: A FOUCAULDIAN INTERPRETATION  OF BRITISH PUBLIC LIBRARY ATTITUDE OF SOCIAL AND PHYSICAL DISEASE ca. 1850-1950”

Suatu ketika mengikuti diskusi yang membahas sebuah artikel yang ditulis oleh  Alistair Black seorang Profesor dalam bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi, yang berjudul “The Library as Clinic: A Foucauldian Interpretation  of British Public Library Attitude of Social and Physical Disease ca. 1850-1950. Artikel yang sangat menarik ketika sang penulis, mencoba mengkaji perpustakaan umum dengan cara pandang Foucault sebagaimana karyanya dalam “The Birth of the Clinic”, yang mencoba mengurai asal usul dari lahirnya klinik pada abad ke-19. Sebagaimana Foucault mencari tahu mengenai “The Birth of The Clinic” maka Alistair Black berupaya mengkaji asal usul atau sejarah Perpustakaan di Inggris pada tahun 1850 sampai dengan 1950. Mengapa Alistair menganalogikan perpustakaan dengan klinik,  menjadi perbincangan yang seru dalam diskusi tersebut.
Terdapat beberapa alasan mengapa Alistair menggunakan karya Foucault tersebut dalam menjelaskan Perpustakaan dalam tulisannya. Paling tidak terdapat lima alasan yang mendasarinya, atau terdapat kesejajaran-kesamaan antara klinik dengan perpustakaan umum, yakni:
a.    Keduanya dianggap sebagai sebuah lembaga umum atau lembaga publik yang menyediakan sarana yang luas dan dapat diakses oleh masyarakat
b.   Baik perpustakaan maupun klinik dianggap sebagai lembaga yang melayani masyarakat secara umum dengan melalui tahapan atau prosedur standar dan dilakukan secara profesional.
c.    Perpustakaan dan klinik dianggap mengobati penyakit masyarakat, klinik mengobati penyakit fisik, sementara perpustakaan umum mengobati penyakit sosial atau masyarakat melalu penanamanan kebiasaan dan nilai-nilai.
d.   “The Gaze”, dimana baik perpustakaan maupun klinik dijalankan melalui suatu “pandangan” baik medis bagi klinik, maupun pengawasan teknis dan teknologi bagi perpustakaan umum.
e.    Point terakhir dari yang disampaikannoleh Alistair Black adalah penyakit infeksi. Pada point ini diskusi berlangsung dengan sangat seru mengingat pendapat Black yang menyatakan bahwa sebagaimana klinik mengupayakan usaha untuk melawan penyakit serta meningkatkan kesehatan fisik, maka perpustakaan umum dipandang sebagai  lembaga yang dapat mengungupayakan kesehatan non fisik namun menurut kronologi sejarah pada tahun 1800-an sampai dengan 1900-an terdapat ironis karena  perpustakaan umum dianggap pula sebagai lembaga yang mempunyai andil dalam timbulnya penyakit secara fisik (kok bisa?). Penjelasan dari hal tersebut misalnya pada tahun 1834 gagasan pendirian perpustakaan bersamaan dengan ruang terbuka hijau, kemudian pada awal abad ke-19, Robert Slaney mengatakan bahwa perpustakaan umum merupakan salah satu lembaga yang melalukan pendidikan kepada masyarakat terkait hukum dan isu-isu kebersihan. Letak ironisnya anggapan bahwa karena perpustakaan sebagai lembaga publik yang dipergunakan oleh banyak orang atau publik, maka perpustakaan umum dianggap mempunyai potensi dalam penyebaran infeksi atau saat itu perpustakaan digambarkan sebagai “grubby soup kitchen”. Karena anggapan itulah maka pada kurang lebih tahun 1920-1930 seorang ibu akan keberatan apabila anaknya menggunakan perpustakaan umum dengan alasan tidak higienis. Atau pada tahun 1931 ada seorang buruh yang dilaporkan kepada polisi karena meludah di Perpustakaan Umum, hal tersebut berkaitan dengan kekawatiran akan penularan penyakit TBC. Namum demikian pada tahun 1950-an a pendapat bahwa perpustakaan sebagai media penularan infeksi penyakit dipatahkan dan semakin diperkuat pada tahun 1965dimana  Layanan Laboratorium Kesehatan Masyarakat di Inggris melalui British Medical Journal menyatakan bahwa resiko infeksi dari buku-buku perpustakaan sangat sedikit dan dapat diabaikan.
Kesimpulan yang diperoleh dari hasil diskusi tersebut adalah ide Foucault tentang “The Birth of Clinic” dipinjam oleh Alistair Black guna menjelaskan peran Perpustakaan Umum di Inggris pada tahun 1850-1950. Dimana perpustakaan umum berperan sebagai klinik pemberantasan penyakit sosial masyarakat namun sejarah mencatat pula bahwa saat itu berkembang anggapan bahwa perpustakaan sebagai penyebab dari timbulnya penyakit fisik meskipun penelitian-penelitian selanjutnya menyatakan bahwa resiko infeksi yang ditimbulkan dari buku-buku di perpustakaan adalah sangat kecil bahkan bisa dikesampingkan.


(Sumber: hasil diskusi atas presentasi makalah yang disusun oleh Aprilia Mardiastuti dan Twista)

Minggu, 15 Mei 2016

Jalan-Jalan ala Pustakawan



SAYANG DIBUANG:
SESUATU YANG BERKESAN DARI SEBUAH PERJALANAN YANG DINAMAKAN “LIBRARY TOUR”


Berbagai cara dapat dilakuakan dalam rangka belajar, salah satu konsep belajar yang dapat diterapkan adalah melalui kegiatan studi banding. Pengertian studi banding sendiri  merujuk pada suatu kegiatan dimana kegiatan tersebut  dilakukan pada lokasi atau lingkungan yang berbeda. Studi banding tersebut dilakukan oleh kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan guna mengunjungi atau menemui suatu obyek tertentu yang tentu saja sudah dipersiapkan dan berlangsung dalam waktu yang relatif tidak lama. Atau dengan kata lain studi bading merupakan upaya memperbandingkan antara kondisi suatu obyek yang ada di tempat sendiri dengan kondisi obyek studi di tempat lain atau lokasi yang dituju. Hasil yang diharapkan dari kegiatan studi banding yang dilakukan adalah berupa data dan informasi yang dapat dipergunakan sebagai dasar acuan di dalam melakukan perumusan konsep yang diinginka. Secara umum kegiatan ini bermanfaat bagi peningkatkan mutu atau kualitas, perluasan usaha, perbaikan suatu sistem, penentuan sebuah kebijakan baru, perbaikan peraturan perundangan dan tujuan laninya. Sementara itu tujuan yang dapat dicapai adalah: menggali informasi sebanyak mungkin yang dapat dipergunakan sebagai tolok ukur dan sebuah pembanding yang dapat dipergunakan untuik menemukan sebuah pembaharuan yang aplikatif baik untuk perencanaan jangka pendek maupun jangka panjang. Singkat kata tujuan studi banding adalah: menambah wawasan dan pengalaman, melakukan perbandingan di tempat kita dengan tempat lain, serta menambah cakrawala fikir.
Pustakawan terkadang dalam pekerjaannya terjebak dalam berbagai aktifitas rutin dan bersifat teknis. Dia sering diidentikan dengan pekerjaan membuat nomor kelas, membuat katalog, menyusun buku pada jajaran rak, pembuatan indeks dan abstrak serta berbagai macam rutinitas lainnya. Kegitan-kegian rutin tersebut terkadang menumpulkan kemampuan seorang pustakawan untuk berfikir dan bertindak lebih kreatif, inovatif, user oriented, dan berbagai pemikiran diluar biasanya. Salah satu cara agar pustakawan dapat lepas dari kondisi tersebut adalah melalui kegiatan studi banding. Tentu saja lokasi studi banding yang dituju haruslah memiliki standar yang lebih tinggi dibandingkan dengan lokasi kita. Diharapkan melalui kegiatan studi banding tersebut seorang pustakawan dapat memiliki pencerahan dalam melanjutkan profesi sebagai seorang manajer informasi.
Pada pertengahan Bulan Maret 2016 bersama dengan rombongan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia Provinsi DIY, berkesempatan mengikuti serangkaian program Library Tour ke dua negara tetangga yaitu Malaysia dan Singapura. Kesempatan yang tentu saja tidak pernah disia-siakan (kapan lagi kalau bukan sekarang..?) untuk melihat secara lebih dekat dan mendalam bagaimana dunia perpustakaan di negara lain. Kegiatan tersebut diberi tema “Embedded Librarianship Tour 2016” dengan mata acara adalah: Library tour, seminar, ceramah dan diskusi. Istilah Embedded sendiri berarti sebuah upaya perpustakaan untuk mempertegas perannya dalam aktivitas yang dilakukan lembaga induknya atau dengan kata lain suatu usaha yang dilakukan oleh perpustakaan untuk meningkatkan nilai guna dari layanan yang diselenggarakan. Perpustakaan yang dipilih menjadi tujuan dari Library Tour adalah jenis perpustakaan Umum dan Perpustakaan Perguruan Tinggi di kedua negara tersebut. Di Malaysia perpustakaan yang dituju yaitu Universiti Teknologi MARA (UiTM), Perbadanan Perpustakaan Awam Selangor (PPAS), sedangkan di Singapura adalah mengunjungi Perpustakaan National University of Singapore (NUS), National Library Board (NLB), dan Esplanade Library. Berkeliling di perpustakaan-perpustakaan tersebut terasa sentuhan kekinian dalam pengelolaan perpustakaan. Secara sekilas disain interior serta sarana prasarana yang dipergunakan terkesan dinamis dan modern, misalnya bangku atau kursi yang menggunakan warna-warna cerah dan mencolok atau berbentuk bulat, lingkaran, lesehan dengan ceruk-ceruk dilantai, bangku yang berada di dalam rak display buku ((nylempit: Jawa) dan sebagainya. Fasilitas ruangan yang nyaman mengakomodasai kebutuhan pemustaka yang beragam misalnya ada zona senyap dan ruang khusus bertelepon, ruang diskusi, ruang santai, galeri, dan sebagainya. Menarik pula apabila melirik pengunjung perpustakaan umum dimana dari segala usia mulai dari anak-anak, dewasa, hingga para “sepuh” alias eyang-eyang menggunakan fasilitas layanan perpustakaan tersebut serta adanya kegiatan-kegiatan menarik yang disuguhkan perpustakaan bagi pemustaka.
Meminjam istilah yang disampaikan oleh Wayne Wiegand yang dikutip oleh Gary P. Radford dalam artikel “Trapped In Our Own Discursive Formations: Toward An Archaelogy of Library And Information Science” bahwa Ilmu Perpustakaan dan Informasi seperti “Tunnel Vision and Blind Spot” atau secara sederhana menggunakan kacamata kuda. Oleh karena itu  melalui kegiatan library tour tersebut benar-benar mampu menggelitik sanubari untuk dapat keluar dari “zona biasa saja” atau menggunakan kacamata kuda dalam  pengelolaan perpustakaan untuk memperoleh cakrawala pandang yang lebih luas sehingga mampu mengambil sisi positif dari luar sana yang dapat diimplementasikan dalam lingkungan kita.
Singkat cerita bahwa terkadang kita perlu melihat keluar untuk melihat apa yang terjadi di luar sana, sebagai sebuah refleksi diri terhadap apa yang sudah kita lakukan di tempat kita sendiri. Oleh karena itu mari kita berupaya keluar dari kebiasaan dan pandangan sempit, berfikir kreatif dan inovatif, mengubah image masyarakat terhadap perpustakaan yang hanya sebagai gudang buku, ruang display, petugas yang kaku dan kurang ramah dan citra negatif lainnya menuju kepada perpustakaan baru yang lebih dinamis dan mampu berperan dalam mendukung pembangunan kecerdasan masyarakat, perpustakaan yang mampu mengenali kebutuhan masyarakat.


*beberapa bagian  dikutip dari berbagai sumber