DINAMIKA “LIBRARY AS SPACE”
Setiap orang mempunyai kesan dan
penilaian sendiri-sendiri tentang suatu objek tertentu. Begitu pula kesan atau
penilaian seseorang terhadap perpustakaan tentu sangat beragam, tergantung dari
pengalaman, pengetahuan, dan latar belakang orang tersebut tentang
perpustakaan. Beberapa orang mencitrakan perpustakaan secara positif dan
sesuatu yang mengesankan. Namun tidak dipungkiri bahwa banyak anggota
masyarakat yang masih berpandangan “kuno” terhadap perpustakaan. Perpustakaan
masih dianggap “kekunoan”, dengan segala identitas yang menempel, misalnya:
gudang buku, ruangan yang harus senyap tidak boleh diskusi atau mengobrol,
kaku, petugas yang galak, banyak aturan-aturan dan larangan-larangan, dan lain sebagainya.
Sementara diluar sana semangat
perkembangan teknologi informasi semakin menggempur kita seakan pula mampu
mengubah sikap dan perilaku masyarakat. Melihat fenomena tersebut sudah
semestinya perpustakaan berbenah diri untuk bertransformasi menjadi
perpustakaan yang mengikuti perkembangan zaman dan trend perubahan sikap dan
perilaku pemustakanya. Harapannya perpustakaan bisa bermain atau berperan pada
segala masa, dinamis terhadap perubahan yang terjadi sehingga tidak
ditinggalkan oleh para pemustaka atau masyarakat anggotanya. Jangan sampai
perkembangan yang terjadi diluar perpustakaan menjadi tidak sejalan dengan
perkembangan di dalam perpustakaan sendiri.
Apabila melihat perkembangan
perpustakaan yang ada maka terdapat lima generasi perpustakaan “library as space”, dimana generasai
disini tidak dimaksudkan merujuk pada kronologi waktu. Adapun secara singkat
kelima generasi tersebut adalah:
1.
Generasi
pertama adalah perpustakaan masih sebagai “Collection
Centris”, atau dapat dikatakan bahwa fokus perhatian perpustakaan adalah
pada koleksi. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui space ruang koleksi atau rak penyimpanan buku mendominasi ruang
perpustakaan. Space untuk user lebih kecil dibanding space koleksi.
2.
Generasi
kedua adalah “Client Focused”, perpustakaan
generasi kedua tidak lagi berfokus pada koleksi tetapi pada layanan atau
fokusnya pada pengguna atau user,
misalnya ditandai dengan penggunaan teknologi dalam layanan perpustakaan, space untuk user lebih mendominasi daripada space
koleksi.
3.
Generasi
ketiga adalah perpustakaan sebagai “Experience
Center”, merupakan pengembangan dari generasai kedua, dimana seorang user ketika masuk ke perpustakaan akan
menemukan suatu pengalaman baru yang tidak ditemukan pada perpustakaan umumnya,
ada rasa yang berbeda. Misalnya: tersedia cafe
perpustakaan, tidak terlalu banyak larangan-larangan di perpustakaan, tersedia
aneka fasilitas dan layanan dalam perpustakaan (movie, gym, arena bermain, dsb), display buku yang tidak monoton,
dan sebagainya.
4.
Generasi
keempat adalah perpustakaan sebagai “Connected
Learning Experience”, perpustakaan menyediakan fasilitas yang memungkinkan user untuk belajar secara bersama baik
dalam lingkungan perpustakaan maupun diluar lingkungan perpustakaan, misalnya menyediakan
layar lebar untuk fasilitas belajar bersama atau menyediakan fasilitas skype agar seorang user dapat brlajar dengan seseorang diluar perpustakaan.
5.
Generasi
kelima atau generasi terakhir adalah “Library
as Makerspace”, artinya bahwa perpustakaan selain menyediakan buku sebagai
bahan bacaan juga menyediakan sarana praktik dari pembahasan dari suatu bacaan
tersebut. Misalnya ada buku tentang merajut, maka perpustakaan menyediakan
fasilitas praktik atau latihan merajut.
Sudah bukan masanya lagi perpustakaan
dianggap sebagai tempat yang ga asiik
dan kekunoon karena ternyata di beberapa tempat, perkembangan perpustakaan “library as place” sudah memasuki
generasi kelima. Perubahan perpustakaan kearah yang lebih baik pasti akan bisa
terwujud, salah satunya tergantung pada komitmen dan kesungguhan kita untuk
berubah. Terletak di generasi berapa perpustakaan kita saat ini, menjadi
refleksi kita untuk dapat merenda perpustakaan menjadi lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar