AKU DAN MENULIS
Mendengar kata menulis, yang terlintas dalam benak saya
adalah masa-masa sekolah dulu, dimana selalu saja ada (dipaksa) untuk mengarang atau menuliskan sesuatu sebagai sebuah
karangan pada salah satu tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Merangkai kata
dan kalimat dari satu paragraf ke paragraf berikutnya yang terkadang nampak
tidak nyambung satu sama lain sehingga mengaburkan makna. Kembali ke masa itu, rasanya
puas sekali apabila mampu memenuhi lembar demi lembar kertas lembar jawab ujian
(kalau tidak salah waktu itu namanya THB atau dari Tes Hasil Belajar) dengan
hasil karangan.
Selepas masa-masa sekolah dasar sampai menengah kegiatan tulis
menulis sebagai ungkapan ide atau gagasan nyaris tidak pernah dilakukan,
kecuali memang dipaksa untuk menulis sebagai bagian dari (lagi lagi) sebagai tugas kuliah. Saat ini kalaupun harus menulis
paling dalam bentuk update status di
facebook atau media sosial lainnya, bagi saya itupun terbilang sangat sangat
jarang. (pokoknya ga ekspresif banget deh).
Benar sekali kata orang kalau berkomunikasi secara lisan
lebih mudah dilakukan dibanding dengan komunikasi melalui sebuah tulisan. Kalau
ngobrol tinggal cuap cuap aja tapi kalau melalui tulisan, duh mesti mikir
bagaimana membuat kalimat yang bisa dimengerti oleh orang, sesuai tidak dengan
kaidah tata bahasa, nyambung tidak antara satu kalimat dengan kalimat lainnya,
dan sebagainya. Parahnya lagi terkadang
tiada ide yang hendak dituliskan (termasuk
ketika menulis ini).
Apa sih sebenarnya menulis itu, Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia, menulis dapat berarti, (1) membuat huruf Angka dsb), (2) melahirkan
pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan, (3)
menggambar; melukis, (4) membatik (kain). Berdasarkan beberapa arti menulis
tersebut maka yang dirasa paling sesuai dengan konteks tulisan ini adalah
definisi yang pertama dan kedua yaitu, bagaimana membuat huruf atau angka serta
melahirkan pikiran atau perasaan dengan tulisan.
Menurut Djago Tarigan dalam sebuah tulisannya mengatakan
bahwa mengarang merupakan suatu keterampilan yang bersifat mekanistik, dimana
keterampilan tersebut tidak mungkin dapat dikuasai oleh seseorang hanya dengan
berbekal teori saja. Akan tetapi melalui latihan-latihan terus menerus.
Sementara itu menurut Arswendo Atmowiloto mengatakan bahwa
mengarang itu gampang, karena bisa dipelajari dengan syarat tertentu. Apa
syaratnya? Syaratnya adalah: mempunyai kemampuan membaca dan menulis serta
mempunyai minat terus-menerus yang tidak mudah patah. Lebih lanjut Arswendo
dalam bukunya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan minat dan ambisi tersebut
diibaratkan sebagai rasa cinta yang terus mengalir, yang didasarkan pada
kepercayaan diri. Melalui kegiatan tulis menulis atau mengarang seseorang
melakukan sesuatu yang dicintai dan percaya bahwa ada sesuatu yang baik yang
dapat dilakukan melalui hal tersebut.
Pustakawan menulis? Kenapa tidak? mari saling dukung untuk tumbuhnya
rasa cinta menulis sebagai bentuk ekspresi diri pustakawan yang harapannya
semakin banyak orang yang mengenal dunia kepustakawanan, kalau bukan kita siapa
lagi? So...lebih baik memulai “menulis” daripada tidak sama sekali, mencoba
meski jauh dari sempurna. Yang penting berusaha dan terus berlatih..
Semangat menumbuhkan cinta membaca dan menulis.
DAFTAR PUSTAKA
Atmowiloto, Arswendo, Mengarang Itu Gampang, Jakarta:
Gramedia, 1987.
Indonesia, Departemen
Pendidikan Nasional, Kamus Besar bahasa
Indonesia Pusat Bahasa, ed.4., Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008.
Tarigan, Djago, Membina Keterampilan Menulis Paragraf dan
Pengembangannya, Bandung: Angkasa, 2008.